Nama : Syifa Nisrina
Kelas : 4EA16
NPM : 18213770
A. Prinsip Otonomi
Prinsip otonomi
dalam etika bisnis adalah bahwa perusahaan secara bebas memiliki kewenangan
sesuai dengan bidang yang dilakukan dan pelaksanaannya sesuai dengan visi dan
misi yang dipunyainya. Contoh prinsip otonomi dalam etika binis : perusahaan
tidak tergantung pada pihak lain untuk mengambil keputusan tetapi perusahaan
memiliki kekuasaan tertentu sesuai dengan misi dan visi yang diambilnya dan
tidak bertentangan dengan pihak lain.
Dalam pengertian
etika bisnis, otonomi bersangkutan dengan kebijakan eksekutif perusahaan dalam
mengemban misi, visi perusahaan yang berorientasi pada kemakmuran,
kesejahteraan para pekerjanya ataupun komunitas yang dihadapinya. Otonomi
disini harus mampu mengacu pada nilai-nilai profesionalisme pengelolaan
perusahaan dalam menggunakan sumber daya ekonomi.
B. Prinsip Kejujuran
Prinsip
kejujuran dalam etika bisnis merupakan nilai yang paling mendasar dalam
mendukung keberhasilan kinerja perusahaan. Kegiatan bisnis akan berhasil jika
dikelola dengan prinsip kejujuran. Baik terhadap karyawan, konsumen, para
pemasok dan pihak-pihak lain yang terkait dengan kegiatan bisnis ini. Prinsip
yang paling hakiki dalam aplikasi bisnis berdasarkan kejujuran ini terutama
dalam kejujuran terhadap diri sendiri.
C. Prinsip Keadilan
Prinsip keadilan
yang dipergunakan untuk mengukur bisnis menggunakan etika bisnis adalah
keadilan bagi semua pihak yang terkait memberikan kontribusi langsung atau
tidak langsung terhadap keberhasilan bisnis. Oleh karena itu, semua pihak ini
harus mendapat akses positif dan sesuai dengan peran yang diberikan oleh
masing-masing pihak ini pada bisnis. Semua pihak harus mendapat akses layak
dari bisnis. Tolak ukur yang dipakai menentukan atau memberikan kelayakan ini
sesuai dengan ukuran-ukuran umum yang telah diterima oleh masyarakat bisnis dan
umum. Contoh prinsip keadilan dalam etika bisnis : dalam alokasi sumber daya
ekonomi kepada semua pemilik faktor ekonomi. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara memberikan harga yang layak bagi para konsumen, menyepakati harga yang
pantas bagi para pemasok bahan dan alat produksi, mendapatkan keuntungan yang
wajar bagi pemilik perusahaan dan lain-lain.
D. Hormat Kepada
Diri Sendiri.
Hormat
pada diri sendiri dalam etika bisnis merupakan prinsip tindakan yang dampaknya
kembali kepada bisnis itu sendiri. Dalam aktivitas
bisnis tertentu ke masyarakat merupakan cermin diri bisnis
yang bersangkutan. Namun jika
bisnis memberikan kontribusi yang menyenangkan bagi masyarakat,
tentu masyarakat
memberikan respon sama. Sebaliknya jika bisnis memberikan image yang
tidak menyenangkan maka
masyarakat tentu tidak menyenangi terhadap bisnis yang bersangkutan. Namun
jika para
pengelola perusahaan ingin memberikan respek kehormatan terhadap perusahaan,
maka lakukanlah respek tersebut para pihak
yang berkepentingan baik secara langsung maupun tidak langsung.
E. Hak & Kewajiban.
E. Hak & Kewajiban.
Setiap
karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan memiliki kewajiban-kewajiban dalam
mencari mitra (rekanan) bisnis yang cocok yang
bisa di ajak untuk bekerjasama, saling menguntungkan di antara
kedua belah pihak dalam pencapaian tujuan yang telah di
sepakati bersama demi kemajuan perusahaan, menjunjung
tinggi nilai-nilai moral yang terwujud dalam perilaku dan sikap dari setiap
karyawan
terhadap mitra
bisnisnya, bila tujuan dalam perusahaan ini tidak sesuai dengan kenyataan yang
ada setidaknya karyawan-karyawan tersebut
telah melaksanakan kegiatan bisnisnya dengan suatu tindakan yang
baik. Lalu bagian perusahaan akan
mencoba untuk menganalisis sebab timbulnya bisnis tidak sesuai
dengan tujuan perusahaan dan menemukan di
mana terjadinya letak kesalahan serta mencari solusi yang
tepat untuk menindak
lanjuti kembali agar bisnis yang di jalankan dapat meningkat secara pesat
seiring perkembangan
waktu.
Bukan hanya kewajiban saja yang harus di jalankan, hak etika bisnis juga sangat di perlukan, di antaranya, hak untuk mendapatkan mitra (kolega) bisnis antar perusahan, hak untuk mendapatkan perlindungan bisnis, hak untuk memperoleh keuntungan bisnis, dan hak untuk memperoleh rasa aman dalam berbisnis. Selain itu dalam berbisnis setiap karyawan dalam suatu perusahaan juga dapat mementingkan hal-hal yang lebih utama, seperti kepercayaan, keterbukaan, kejujuran, keberanian, keramahan, dan sifat pekerja keras agar terjalinnya bisnis yang saling menguntungkan di antara kedua belah pihak bisnis tersebut.
F. Teori
Etika Lingkungan
Menurut Bertens sebagai berikut :
1) Ekosentrisme
Merupakan kelanjutan dari teori etika
lingkungan biosentrisme. Oleh karenanya teori ini sering disamakan begitu saja
karena terdapat banyak kesamaan. Yaitu pada penekanannya atas pendobrakan cara
pandang antroposentrisme yang membatasi keberlakuan etika hanya pada komunitas
manusia. Keduanya memperluas keberlakuan etika untuk mencakup komunitas yang
lebih luas.
2) Antroposentrisme
Antroposentrisme adalah teori etika
lingkungan yang memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta.
Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan
ekosistem dan dalam kebijakan yang diambil dalam kaitan dengan alam, baik
secara langsung atau tidak langung. Nilai tertinggi adalah manusia dan
kepentingannya. Hanya manusia yang mempunyai nilai dan mendapat perhatian.
Segala sesuatu yang lain di alam semesta ini hanya akan mendapat nilai dan
perhatian sejauh menunjang dan demi kepentingan manusia. Oleh karenanya alam
pun hanya dilihat sebagai obyek, alat, dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan dan
kepentingan manusia. Alam hanya alat bagi pencapaian tujuan manusia. Alam tidak
mempunyai nilai pada dirinya sendiri.
3) Biosentrisme
Pada biosentrisme, konsep etika
dibatasi pada komunitas yang hidup (biosentrism), seperti tumbuhan dan hewan.
Sedang pada ekosentrisme, pemakaian etika diperluas untuk mencakup komunitas
ekosistem seluruhnya (ekosentrism). Etika lingkungan biosentrisme adalah etika
lingkungan yang lebih menekankan kehidupan sebagai standar moral Sehingga bukan
hanya manusia dan binatang saja yang harus dihargai secara moral tetapi juga
tumbuhan. Menurut Paul Taylor, karenanya tumbuhan dan binatang secara moral
dapat dirugikan dan atau diuntungkan dalam proses perjuangan untuk hidup mereka
sendiri, seperti bertumbuh dan berproduksi.
4) Zoosentrisme
Etika lingkungan Zoosentrisme adalah
etika yang menekankan perjuangan hak-hak binatang, karenanya etika ini juga
disebut etika pembebasan binatang. Tokoh bidang etika ini adalah Charles Brich.
Menurut etika ini, binatang mempunyai hak untuk menikmati kesenangan karena
mereka dapat merasa senang dan harus dicegah dari penderitaan. Sehingga bagi
para penganut etika ini, rasa senang dan penderitaan binatang dijadikan salah
satu standar moral. Menurut The Society for the Prevention of Cruelty
to Animals, perasaan senang dan menderita mewajibkan manusia secara moral
memperlakukan binatang dengan penuh belas kasih
5) Neo-Utilitarisme
Lingkungan neo-utilitarisme merupakan
pengembangan etika utilitarisme Jeremy Bentham yang menekankan kebaikan untuk
semua. Dalam konteks etika lingkungan maka kebaikan yang dimaksudkan, ditujukan
untuk seluruh mahluk. Tokoh yang mempelopori etika ini adalah Peter Singer. Dia
beranggapan bahwa menyakiti binatang dapat dianggap sebagai perbuatan tidak
bermoral.
6) Anti-Spesiesme
Teori ini menuntut perlakuan yang
sama bagi semua makhluk hidup, karena alasan semuanya mempunyai kehidupan.
Keberlakuan prinsip moral perlakuan yang sama (equal treatment). Anti-spesiesme
membela kepentingan dan kelangsungan hidup spesies yang ada di bumi. Dasar
pertimbangan teori ini adalah aspek sentience, yaitu kemampuan untuk merasakan
sakit, sedih, gembira, dan seterusnya. Inti dari teori biosentris adalah dan
seluruh kehidupan di dalamnya, diberi bobot dan pertimbangan moral yang sama.
7) Prudential
and Instrumental Argument
Prudential Argument menekankan bahwa
kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia tergantung dari kualitas dan kelestarian
lingkungan. Argumen Instrumental adalah penggunaan nilai tertentu pada alam dan
segala isinya, yakni sebatas nilai instrumental. Dengan argumen ini, manusia
mengembangkan sikap hormat terhadap alam.
8) Non-antroposentrisme
Teori yang menyatakan manusia
merupakan bagian dari alam, bukan di atas atau terpisah dari alam.
9) The
Free and Rational Being
Manusia lebih tinggi dan terhormat
dibandingkan dengan mahkluk ciptaan lain karena manusia adalah satu-satunya
mahkluk bebas dan rasional, oleh karena itu Tuhan menciptakan dan menyediakan
segala sesuatu di bumi demi kepentingan manusia. Manusia mampu
mengkomunikasikan isi pikirannya dengan sesama manusia melalui bahasa. Manusia
diperbolehkan menggunakan mahkluk non-rasional lainnya untuk mencapai tujuan
hidup manusia, yaitu mencapai suatu tatanan dunia yang rasional.
Teori Lingkungan yang Berpusat pada Kehidupan (Life-Centered
Theory of Environment). Intinya adalah manusia mempunyai kewajiban moral
terhadap alam yang bersumber dan berdasarkan pada pertimbangan bahwa, kehidupan
adalah sesuatu yang bernilai. Etika ini diidasarkan pada hubungan yang khas
antara alam dan manusia, dan nilai yang ada pada alam itu sendiri.
G. Prinsip
Etika di Lingkungan
Menurut Keraf prinsip etika sebagai
berikut :
1) Sikap
Hormat terhadap Alam
Hormat terhadap alam merupakan suatu
prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya.
2) Prinsip
Tanggung Jawab
Tanggung jawab ini bukan saja
bersifat individu melainkan juga kolektif yang menuntut manusia untuk mengambil
prakarsa, usaha, kebijakan dan tindakan bersama secara nyata untuk menjaga alam
semesta dengan isinya.
3) Prinsip
Solidaritas
Prinsip yang membangkitkan rasa
solider, perasaan sepenanggungan dengan alam dan dengan makluk hidup lainnya
sehigga mendorong manusia untuk menyelamatkan lingkungan.
4) Prinsip
Kasih Sayang dan Kepedulian
Prinsip satu arah, menuju yang lain
tanpa mengaharapkan balasan, tidak didasarkan kepada kepentingan pribadi tapi
semata-mata untuk alam.
5) Prinsip
“No Harm”
Tidak Merugikan atau merusak, karena
manusia mempunyai kewajiban moral dan tanggung jawab terhadap alam, paling
tidak manusia tidak akan mau merugikan alam secara tidak perlu.
6) Prinsip
Hidup Sederhana dan Selaras dengan Alam
Pola konsumsi dan produksi manusia
modern harus dibatasi. Prinsip ini muncul didasari karena selama ini alam hanya
sebagai obyek eksploitasi dan pemuas kepentingan hidup manusia.
7) Prinsip
Keadilan
Prinsip ini berbicara terhadap akses
yang sama bagi semua kelompok dan anggota masyarakat dalam ikut menentukan
kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian alam, dan dalam ikut
menikmati manfaat sumber daya alam secara lestari.
8) Prinsip
Demokrasi
Prinsip ini didasari terhadap
berbagai jenis perbeaan keanekaragaman sehingga prinsip ini terutama berkaitan dengan
pengambilan kebijakan didalam menentukan baik-buruknya, rusak-tidaknya, suatu
sumber daya alam.
9) Prinsip
Integritas Moral
Prinsip ini menuntut pejabat publik
agar mempunyai sikap dan perilaku moral yang terhormat serta memegang teguh
untuk mengamankan kepentingan publik yang terkait dengan sumber daya alam.
DAFTAR PUSTAKA
Agoes, Sukrisno
dan Ardana, I Cenik. 2009. Etika Bisnis dan Profesi:Tantangan
Membangun Manusia Seutuhnya. Jakarta : Salemba Empat.
Bertens, K.
2009. Pengantar Etika Bisnis. Yogyakarta: Kanisius.
Dr. H. Budi
Untung, 2012. Hukum dan Etika Bisnis. Yoghyakarta: CV Andi Offset.
https://mariaulfah56.wordpress.com/2015/12/05/prinsip-otonomi-kejujuran-dan-keadilan-pada-etika-bisnis/
https://mariaulfah56.wordpress.com/2015/12/05/prinsip-otonomi-kejujuran-dan-keadilan-pada-etika-bisnis/
Budi Untung. 2012. Hukum dan
Etika Bisnis. CV Andi Offset. Yogyakarta
Keraf, A. Sonny. Etika Lingkungan
(Jakarta ; Kompas, 2006)
Kuswahyudi. 2008. Etika Kita Untuk
Lingkungan Hidup