Minggu, 29 November 2015

proses pembelian

Proses Pembelian – Softskill

Proses Pembelian Perilaku Konsumen
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
pembelian adalah :
a. Faktor budaya : kultur, subkultur dan kelas sosial.
b. Faktor sosial : kelompok acuan, keluarga, peranan dan status.
c. Faktor kepribadian : usia dan tingkatan kehidupan, jabatan, keadaan
ekonomi, gaya hidup dan kepribadian serta konsep diri.
d. Faktor kejiwaan : motivasi, pandangan, belajar, kepercayaan dan sikap.
Pasca Pembelian/Hasil
Perilaku konsumen setelah proses pembelian yaitu konsumen akan
mengalami suatu tingkat kepuasan dan ketidakpuasan. Hal ini akan
mempengaruhi tindakan pembelian selanjutnya. Konsumen yang tidak puas akan
menghentikan pembelian produk atau akan menceritakan yang kurang baik
kepada orang lain.
Konsumen membentuk harapan mereka atas pesan-pesan yang diterima
dari penjual/pemasar, teman dan sumber informasi lainnya. Jika penjual
membesar-besarkan manfaat produk, kemungkinan konsumen akan mengalami
harapan yang tidak tercapai yang menyebabkan ketidakpuasan. Semakin besar
jarak antara harapan dan hasil yang dirasakan maka semakin besar ketidakpuasan.
AIDA dikenal sebagaimana seorang pemasar merancang pesan yang
disampaikan dengan kata yang tepat sehingga terjadinya pengambilan keputusan
akan pembelian produk.
Di mana seorang pemasar harus menyadari bahwa pesan yang disajikan terdapat tentang AIDA, yaitu :
1) Attention (Perhatian)
Menimbulkan perhatian pelanggan berarti sebuah pesan harus dapat menimbulkan perhatian baik dalam bentuk dan media yang disampaikan.
2) Interest (Ketertarikan)
Tertarik berarti pesan yang disampaikan menimbulkan perasaan ingin tahu, ingin mengamati, dan ingin mendengar serta melihat lebih seksama.
3) Desire (Keinginan)
Pemikiran terjadi dari adanya keinginan. Hal ini berkaitan dengan motif dan motivasi konsumen dalam membeli suatu produk.
4) Action (Tindakan)
Tindakan terjadi dengan adanya keinginan kuat konsumen sehingga terjadi pengambilan keputusan dalam melakukan pembeli produk yang ditawarkan.

Selasa, 13 Oktober 2015

PERILAKU KONSUMEN - TUGAS SOFTSKIL

PERILAKU KONSUMEN

Menurut John C. Mowen dan Michael Minor mendefinisikan perilaku konsumen sebagai studi tentang unit pembelian (buying unit) dan proses pertukaran yang melibatkan perolehan United States, konsumsi berbagai produk,jasa dan pengalaman serta ide-ide.
Menurut Lamb, Hair dan Mc.Daniel menyatakan bahwa perilaku konsumen adalah proses seorang pelanggan dalam membuat keputusan untuk membeli, menggunakan serta mengkonsumsi barang-barang dan jasa yang dibeli, juga termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian dan penggunaan produk.(Rangkuti,2002:91)
Menurut Engel, Blackwell dan Miniard, menyatakan bahwa perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi dan menghabiskan produk dan jasa termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan ini.
Perilaku konsumen dapat disarikan dari semua definisi diatas sebagai studi tentang proses pengambilan keputusan oleh konsumen dalam memilih, membeli,memakai serta memanfaatkan produk,jasa,gagasan, atau pengalaman dalam rangka memuaskan kebutuhan dan hasrat konsumen.
Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi perilaku konsumen, yaitu :
1. Konsumen adalah raja
Ia memiliki kemampuan penuh untuk menyaring semua upaya untuk mempengaruhi, dengan hasil bahwa semua yang dilakukan oleh perusahaan harus disesuaikan dengan motivasi dan perilaku konsumen.
2. Motivasi dan perilaku konsumen dapat dipahami melalui penelitian
Hal-hal yang berkaitan dengan motivasi dan perilaku dapat diketahui melalui penelitian, sehingga penelitian ini dipakai sebagai acuan dalam membuat program pemasaran, perencanaan periklanan, perencanaan promosi sehingga hal-hal yang terjadi pada masa yang akan datang dapat diprediksi.

TEORI KEBUTUHAN KONSUMEN
Abraham Maslow berusaha menjelaskan mengapa orang didorong oleh kebutuhan tertentu pada waktu tertentu. Kebutuhan manusia tersusun dalam hierarki, dari yang paling mendesak sampai yang paling kurang mendesak. Berdasarkan urutan tingkat kepentingannya, kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah kebutuhan fisik, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri.
Orang akan berusaha memuaskan dulu kebutuhan mereka yang paling penting. Jika seseorang berhasil memuaskan kebutuhan yang penting, kemudian dia akan berusaha memuaskan kebutuhan yang terpenting berikutnya. Teori ini berpesan bahwa, jika kita belum mampu memenuhi kebutuhan fisik, lupakanlah keinginan untuk memuaskan kebutuhan harga diri. Sebagai contoh untuk menggambarkan kebalikan dari teori ini, bayangkan ada seseorang yang tersesat di padang pasir, bisa mati karena lapar dan kehausan. Dengan merangkak ke puncak bukit pasir, dia melihat sebuah oase di kejauhan. “Air! Saya sudah melihatnya. Apa yang perlu saya lakukan ialah untuk terus berjalan sedikit lagi. Tapi tunggu dulu! Hari ini batas tempo cicilan pembayaran kendaraan yang kubeli secara kredit. Bisa-bisa aku didenda atau ditarik kendaraanku. Apa nanti kata teman-teman. Oh, malunya, aku harus kembali,” dan dia berbalik menjauhi oase itu. Jika kebutuhan fisik kita terancam, maka kebutuhan-kebutuhan inilah yang menjadi perhatian utama. Hal yang sama berlaku dengan tingkat-tingkat yang lebih tinggi. Masing-masing orang mestilah memutuskan apa yang diperlukan untuk memuaskan setiap tingkat, apa yang cukup memadai bagi dirinya sendiri.
1. Kebutuhan Fisik
Kebutuhan fisik adalah kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan tubuh manusia untuk mempertahankan hidup. Kebutuhan tersebut meliputi makanan, air, udara, rumah, pakaian, dan seks. Sebagai negara berkembang, dengan pengeluaran penduduk Indonesia yang masih bergelut untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
2. Kebutuhan Keamanan
Kebutuhan rasa aman adalah kebutuhan tingkat kedua setelah kebutuhan dasar. Ini merupakan kebutuhan perlindungan bagi fisik manusia. Manusia membutuhkan perlindungan dari gangguan kriminalitas, sehingga ia dapat hidup dengan aman dan nyaman ketika berada di rumah maupun ketika berpergian.
3. Kebutuhan Sosial
Setelah kebutuhan dasar dan rasa aman terpenuhi, manusia membutuhkan rasa cinta dari orang lain, rasa memiliki dan dimiliki, serta diterima oleh orang-orang di sekelilingnya. Inilah kebutuhan ketiga dari Maslow yaitu kebutuhan sosial. Kebutuhan tersebut berdasarkan kepada perlunya berhubungan satu dengan lainnya. Pernikahan dan keluarga adalah cermin kebutuhan sosial yang dipraktekkan oleh manuisa. Keluarga adalah lembaga sosial yang mengikat anggota-agotanya secara fisik dan emosional. Sesama anggota saling membutuhkan, menyayangi, saling melindungi.
4. Kebutuhan Penghargaan
Kebutuhan penghargaan adalah kebutuhan tingkat keempat, yaitu kebutuhan untuk berprestasi sehingga mencapai derajat yang lebih tinggi dari yang lainnya. Manusia tidak hanya puas dengan telah terpenuhinya kebutuhan dasar, rasa aman, dan sosial. Manusia memiliki ego yang kuat untuk bisa mencapai prestasi kerja, dan karier yang lebih baik untuk dirinya maupun lebih baik dari orang lain.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Derajat tertinggi atau ke lima dari kebutuhan adalah keinginan dari individu untuk menjadikan dirinya sebagai orang yang terbaik sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Seorang individu perlu mengekspresikan dirinya dalam suatu aktivitas untuk membuktikan dirinya bahwa ia mampu melakukan hal tersebut. Kebutuhan aktualisasi diri juga menggambarkan keinginan seseorang untuk mengetahui, memahami, dan membentuk suatu sistem nilai, sehingga ia dapat mempengaruhi orang lain. Kebutuhan aktualisasi diri adalah keinginan untuk bisa menyampaikan ide, gagasan, dan sistem nilai yang diyakininya kepada orang lain.
Dari teori di atas, tergambar bahwa kebutuhan merupakan salah satu faktor penting pada motivasi diri seseorang untuk melakukan suatu tindakan, termasuk  peranannya sebagai seorang konsumen. Tentang hal ini, telah banyak disampaikan oleh para master pemasaran, diantaranya oleh James F. Engel (1994), yang menyatakan bahwa mengerti dan mengadaptasi motivasi dan perilaku konsumen bukanlah pilihan – keduanya adalah kebutuhan mutlak untuk kelangsungan hidup kompetitif. Oleh karena itu, Teori Maslow dengan tingkat-tingkat kebutuhan, memberi pengarahan terhadap para tenaga pemasar dalam memahami cara menentukan macam produk, dan menyesuaikannya dengan kehidupan konsumen

SEGMENTASI ATAU PENGELOMPOKKAN

Ø  Pengertian
Segmentasi pasar adalah membagi pasar menjadi pembeli yang kebutuhan, karakteristik atau  perilakunya berbeda (heterogen) menjadi pasar yang sejenis (homogen).

Ø  Jenis-jenis segmentasi
1.)    Segmentasi Geografi
Segmentasi ini membagi pasar menjadi unit-unit geografi yang berbeda, seperti negara, propinsi, kabupaten, kota, wilayah, daerah atau kawasan. Jadi dengan segmentasi ini, pemasar memperoleh kepastian kemana atau dimana produk ini harus dipasarkan.
Contoh : kebutuhan penduduk yang bertempat tinggal di dataran tinggi pasti berbeda dengan kebutuhan penduduk yang bertempat tinggal di dataran rendah.

2.)    Segmentasi Demografi
Segmentasi ini memberikan gambaran bagi pemasar kepada siapa produk ini harus ditawarkan. Unsur segmentasi ini adalah sesuai pada umur, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, siklus kehidupan keluarga seperti anak-anak, remaja, dewasa, menikah atau belum menikah, tingkat penghasilan, pendidikan, jenis pekerjaan, pengalaman, agama, dan keturunan.
Contoh : kebutuhan sesuai jenis kelamin. Kebutuhan laki-laki tentunya berbeda dengan kebutuhan perempuan.

3.)    Segmentasi Psikografi
Pada segmentasi ini pembeli dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan:
a. Status sosial, misalnya: pemimpin masyarakat, pendidik, golongan elite, golongan menengah, golongan rendah.
b. Gaya hidup, misalnya: modern, tradisional, kuno, boros, hemat, mewah dan sebagainya.
c. Kepribadian, misalnya: penggemar, pecandu atau pemerhati suatu produk.
Contoh : kebutuhan masyarakat kelas bawah tentunya sangat berbeda dengan kebutuhan masyarakat kelas menengah ataupun masyarakat kelas atas.

4.)    Segmentasi Tingkah Laku
Segmentasi tingkah laku mengelompokkan pembeli berdasarkan pada pengetahuan, sikap, penggunaan atau reaksi mereka terhadap suatu produk. Banyak pemasar yakin bahwa variabel tingkah laku merupakan awal paling baik untuk membentuk segmen pasar.
Contoh : Kebutuhan yang dipenuhi sesuai dengan sikap kelompok pengguna barang atau jasa tersebut.

Ø  Syarat segmentasi yang efektif
Dalam melakukan segmentasi perusahaan perlu memperhatikan efektifitas segmentasi tersebut. Agar dapat berguna secara maksimal, maka setiap segmen pasar harus menunjukan lima karakteristik :
1.)   Dapat diukur (Measurabel) yaitu ukuran, daya beli, dan profil pasar harus dapat diukur dengan tingkat tertentu.
2.)    Dapat dijangkau (Accessible) yaitu segmen pasar dapat dijangkau dan dilayani secara efektif.
3.)  Cukup besar  (Substantial) yaitu segmentasi pasar cukup besar atau cukup memberi laba yang dapat dilayani. Suatu segmen merupakan kelompok homogenyang cukup bernilai untuk dilayani oleh progam pemasaran yang sesuai.
4.) Dapat dibedakan (Differentiabel) yaitu differentiabel berarti segmen tersebut dapat dibedakan dengan jelas.
5.) Dapat dilaksanakan (Actionable) yaitu actionable berarti segmen tersebut dapat dijangkau atau dilayani dengan sumber daya yang dimiliki perusahaan.

Menurut Armstrong, 1997 segmentasi perilaku dapat diukur menggunakan indikator sebagai berikut:
1.)    Manfaat yang dicari 
Salah satu bentuk segmentasi yang ampuh adalah mengelompokkan pembeli menurut manfaat berbeda yang mereka cari dari produk. Segmentasi manfaat menuntut ditemukannya manfaat utama yang dicari orang dalam kelas produk, jenis orang yang mencari setiap manfaat dan merek utama yang mempunyai setiap manfaat. Perusahaan dapat menggunakan segmentasi manfaat untuk memperjelas segmen manfaat yang mereka inginkan, karakteristiknya serta merek utama yang bersaing. Mereka juga dapat mencari manfaat baru dan meluncurkan merek yang memberikan manfaat tersebut.

2.) Status Pengguna 
 Pasar dapat disegmentasikan menjadi kelompok bukan pengguna, mantan pengguna, pengguna potensial, pengguna pertama kali dan pengguna regular dari suatu produk. Pengguna potensial dan pengguna regular mungkin memerlukan imbauan pemasaran yang berbeda.

3.) Tingkat Pemakaian
Pasar dapat juga disegmentasikan menjadi kelompok pengguna ringan, menengah dan berat. Jumlah pengguna berat sering kali hanya persentase kecil dari seluruh pasar, tetapi menghasilkan persentase yang tinggi dari total pembelian. Pengguna produk dibagi menjadi dua bagian sama banyak, sebagian pengguna ringan dan sebagian lagi pengguna berat menurut tingkat pembelian dari produk spesifik.

4.) Status Loyalitas
Sebuah pasar dapat juga disegmentasikan berdasarkan loyalitas konsumen. Konsumen dapat loyal terhadap merek, toko, dan perusahaan. Pembeli dapat dibagi menjadi beberapa kelompok menurut tingkat loyalitas mereka. Beberapa konsumen benar-benar loyal, mereka selalu membeli satu macam merek. Kelompok lain agak loyal,mereka loyal pada dua merek atau lebih dari satu produk atau menyukai satu merek tetapi kadang-kadang membeli merek lain. Pembeli lain tidak menunjukkan loyalitas pada merek apapun. Mereka mungkin ingin sesuatu yang baru setiap kali atau mereka membeli apapun yang diobral.

Ø  Manfaat dan kelemahan segmentasi menurut (Porter, 1991).

Banyaknya perusahaan yang melakukan segmentasi pasar atas dasar pengelompokkan variabel tertentu. Dengan menggolongkan atau mensegmentasikan pasar seperti itu, dapat dikatakan bahwa secara umum perusahaan mempunyai motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat penjualan dan yang lebih penting lagi agar operasi perusahaan dalam jangka panjang dapat berkelanjutan dan kompetitif.

TARGETING


Targeting adalah proses mengevaluasi setiap daya tarik segmen kemudian memilih satu atau lebih karakteristik untuk dilayani. Targeting adalah persoalan bagaimana memilih, menyeleksi, dan menjangkau pasar. Targeting atau menetapkan target pasar merupakan tahap selanjutnya dari analisis segmentasi. Produk dari targeting adalah target market (pasar sasaran), yaitu satu atau beberapa segmen pasar yang akan menjadi fokus kegiatan-kegiatan pemasaran. Kadang-kadang targeting juga disebut selecting karena marketer harus menyeleksi. Targeting adalah proses mengevaluasi segmen pasar dan memusatkan upaya pemasaran pada negara, kawasan atau kelompok orang yang memiliki potensi signifikan untuk beraksi secara positif terhadap stimulus pemasaran dari perusahaan. Proses targeting mencerminkan kenyataan bahwa perusahaan harus mengidentifikasi pelanggan yang dapat diakses dan dilayani secara efektif dan efisien.
Menurut Ariadi Abimanju, targeting adalah mengenal segmen pasar yang telah ditentukan dan merencanakan cara apa yang paling optimal agar segmen pasar memberikan kemungkinan paling besar untuk membeli produk yang akan dijual/dipasarkan. Penentuan targeting sangat tergantung dari hal-hal seperti karakter produk, karakter segmentasi, dan tingkat persaingan pada segmen yang sudah dipilih. Targeting ini menentukan kepada siapa target market dari suatu produk, apakah kepada semua orang, sebagian orang atau orang-orang tertentu yang memiliki kekhususan.

Penetapan Target Pasar
Bagaimana cara melakukan target market? Dalam menetapkan target market perusahaan (targeting) dapat mempertimbangkan pola-pola, dapat dijelaskan sebagai berikut :
 (1)Diferensiasi segmen, bidang usaha yang membedakan segmen pasar sehingga perusahaan menyediakan kebutuhan produk berbeda untuk tiap segmen yang berbeda pula disesuaikan dengan kebutuhan tiap segmen dan memberikan berbagai varian dari produk yang ditawarkan.
(2)Undiferensiasi segmen, bidang usaha yang tidak membedakan segmen pasar.
(3)Consentrate marketing, spesifikasi usaha yang maksudnya adalah perusahaan berkonsentrasi melayani kebutuhan dalam kelompok tertentu karena tidak semua orang bisa menikmati produk yang tersedia.
 (4)Market coverage strategy, merupakan strategi yang dilakukan dengan menggunakan sistem membership serta produk tidak dijual bebas (hanya di toko sendiri) sehingga dapat memudahkan konsumen dan produsen.
Jika sewaktu-waktu ada perusahaan yang memilih berkonsentrasi pada segmen tertentu saja, Hal itu dilakukan karena dana yang terbatas, segmen tersebut tidak memiliki pesaing, dan merupakan segmen yang paling tepat sebagai landasan untuk ekspansi ke segmen lainnya. Ada cara untuk menetukan Target Pasarnya, yaitu:
1.      Spesialisasi selektif Perusahaan memilih sejumlah segmen pasar yang menarik dan sesuai dengan tujuan serta sumber daya yang dimiliki.
2.      Spesialisasi pasar Perusahaan memusatkan diri pada upaya melayani berbagai kebutuhan dari suatu kelompok pelanggan tertentu.
3.      Spesialisasi produk Perusahaan memusatkan diri pada pembuatan produk tertentu yang akan dijual kepada berbagai segmen pasar.
4.      Pelayanan penuh (full market coverage) Perusahaan berusaha melayani semua kelompok pelanggan dengan semua produk yang mungkin dibutuhkan. Hanya perusahaan besar yang mampu menerapkan strategi ini, karena dibutuhkan sumber daya yang sangat besar.
sumber: http://esty.staff.uns.ac.id/definisi-perilaku-konsumen/
            http://id.wikipedia.org.wiki/perilaku-konsumen/teori-kebutuhan-konsumen/teori-      motivasi/segmentasi-pasar/targetting
            http://stpgroup.blogspot.co.id/p/targeting.html


Rabu, 01 Juli 2015

Visi misi strategi


DEFINISI KEPEMIMPINAN

 Kepemimpinan adalah sebuah proses mempengaruhi orang lain untuk melaksanakan tugas-tugas organisasi secara suka rela (Fairholm, 1991; Gardner, 2000). Bahkan menurut Gemmil dan Oakley (1992) kepemimpinan adalah sebuah proses kerjasama antara anggota organisasi dalam merumuskan metode baru untuk meningkatkan kualitas organisasi. Fulan (2000, hal. 3) mengatakan bahwa
“leadership
 is a process of  persuasion or example by which an individual (or leadership team) induce the group to pursue objectives shared by the leaders and his or her
 followers”
. Fulan berpendapat  bahwa kepemimpinan adalah suatu proses untuk mempengaruhi anggota organisasi lainnya untuk mencapai tujuan yang sudah dirumuskan oleh pemimpin dan anggota organisasi lainnya. Ini artinya bahwa kepemimpinan bukan hanya didefinisikan dari sudut jabatan, tapi lebih tepatnya, kepemimpinan ini adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain tanpa paksaan untuk mencapai sesuatu yang sudah dirumuskan sebelumnya oleh anggota organisasi.

KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN

 Istilah kepemimpinan dan manajemen seringkali dianggap sinonim (Yukl, 1989), tapi para ahli ilmu kepemimpinan masih mengalami kesulitan membedakan kedua istilah tersebut. Fairholm (1991) menyebutkan walaupun kedua istilah tersebut sering dianggap sama, istilah kepemimpinan lebih duluan muncul dari pada istilah manejemen. Namun Nicholls (2002) berbeda pendapat dengan Fairholm, Nicholls  berpendapat bahwa manajemen itu lebih penting daripada kepemimpinan. Para ahli  juga berbeda pendapat apakah seseorang bisa menjadi pemimpin sekaligus manajer pada saat yang sama. Perbedaan-perbedaan pendapat ini pulalah yang mengaburkan perbedaan antara kepemimpinan dengan manajemen (
leadership and management
). Namun demikian, di sini perbedaan dari kedua istilah tersebut akan dianalisa dengan menguraikan definisi dari kedua istilah tersebut. Kepemimpinan adalah sebuah proses di dalam memberi inspirasi kepada anggota organisasi lainnya, dan mempengaruhi anggota tersebut untuk memiliki integritas di dalam mencapai tujuan organisasi. Dengan kata lain, pemimpin itu bertugas untuk menentukan visi organisasi dan selalu memprediksi kebutuhan masa depan (Fairholm, 1991). Sedangkan tugas menejer adalah mengelola integritas bawahan dan mempertahankan status Quo. Menejer tidak

VISI KEPEMIMPINAN

Visi adalah tujuan akhir dari sebuah perjuangan, tujuan akhir bukan berarti pekerjaan terakhir, tapi sebuah pekerjaan yang tak boleh terhenti, walau visi yang diinginkan sudah terwujud dalam hidup. Bila Anda pemimpin, Anda harus sadar bahwa tanpa visi dan tanpa tindakan pada visi yang diinginkan, jangan pernah berkata ada kepemimpinan. Sebab, tanpa visi tidak ada kepemimpinan apapun atas apapun, yang ada hanya sekumpulan orang dengan ambisi besar tanpa arah.
Keberhasilan sebuah kepemimpinan sangat ditentukan oleh pemahaman terhadap visi. Pemahaman bahwa visi itu adalah tujuan, visi itu adalah target, visi itu adalah tindakan, visi itu adalah gairah besar untuk meraih gambaran masa depan yang diinginkan dalam hidup. Sebuah visi yang jelas dan sederhana harus fokus pada sebuah gambaran tentang masa depan yang diinginkan, masa depan yang diimpikan dengan dukungan segenap potensi diri dan potensi sumber daya.
Tanpa visi yang jelas dan sederhana, Anda tidak akan pernah mewujudkan semua hasrat kepemimpinan diri Anda dengan total dan berkualitas. Tanpa visi Anda hanya berlari dan berputar dalam sebuah lingkaran kepemimpinan yang tidak jelas, Anda hanya bekerja berlandaskan rutinitas tanpa tujuan yang terfokus, Anda hanya akan berteriak sambil menyalahkan orang lain. Sebab, jiwa Anda tidak terpanggil untuk melakukan sesuatu kearah yang jelas, semua ide Anda hanya baik buat menyikapi rutinitas pekerjaan Anda, emosi Anda selalu dalam ketidakpastiaan, yang menandakan Anda tidak profesional dalam menjalankan roda kepemimpinan.
Setiap pemimpin harus membangun dan merawat visi kepemimpinan dengan tujuan yang jelas, dan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan dari berbagai kejadian yang mewarnai kepemimpinan tersebut. Ini adalah bagian dari kepemimpinan yang memerlukan hubungan antara visi kepemimpinan dengan realitas kehidupan yang ada, termasuk realitas atas dukungan pengikut pada kepemimpinan. Semakin kuat kepemimpinan yang didukung oleh faktor-faktor di luar diri, maka semakin tangguh visi kepemimpinan tersebut. Visi kepemimpinan yang kuat akan melahirkan pemimpin karismatik yang andal. Seorang pemimpin karismatik pasti mampu menggambarkan visi yang diinginkannya tersebut secara sangat jelas, dan mampu membuat para pengikut terobsesi dengan visi tersebut. Ia seorang pemimpin yang secara jelas akan menyatakan bahwa semua pengikut adalah bintang-bintang terhebat untuk membuat visi tersebut berwujud dalam kehidupan nyata. Ia akan membuat semua pengikut menjadi pendengar yang hebat, dan ia mampu membantu para pengikut untuk benar-benar menghayati dan mendapatkan semua nilai-nilai hebat dari visi yang sedang diperjuangkan itu. Ia seorang pemimpin yang benar-benar mampu memindahkan semua keinginan dari visi tersebut kepada pengikut.
Seorang pemimpin adalah seorang pembicara yang hebat, seorang inspirator yang mampu membuat pendengar percaya pada dia. Dia adalah seorang pemimpin yang mampu melihat gambaran masa depan dengan jelas, dan mampu mempresentasikan visi kepemimpinan dengan penuh percaya diri. Visi kepemimpinan yang hebat adalah yang benar-benar mampu menciptakan daya tarik pesan ke pendengar, bukan sekedar orasi yang hebat, yang membuat pesan dari visi tidak dapat dipahami oleh orang lain.
Visi kepemimpinan harus dalam wujud harapan bersama antara pemimpin dan pengikut, bukan sekedar harapan pemimpin yang tidak disukai pengikut. Pemimpin dan pengikut harus menyatu dalam tujuan visi yang jelas. Pemimpin dan pengikut harus bisa saling memberi dan berkomunikasi untuk menindaklanjuti visi tersebut, sehingga visi tersebut dapat mewujud dalam realitas yang ada.
http://djajendra-motivator.com/?p=1358

Artikulasi Visi dan Misi Kepemimpinan

Visi adalah apa yang didambakan organisasi untuk dimiliki atau diperoleh di masa depan (what we do we want to have). Sedangkan misi adalah dambaan tentang kita akan menjadi apa di masa depan (what we do we want to be). Agar efektif dan powerful, maka visi dan misi harus jelas, harmonis, dan compatible.
Dalam proses kepemimpinan, seorang kepala sekolah dituntut untuk merumuskan visi dan misi sekolah sebagai kesatuan ide dan perekat bagi anggota organisasi sekolah. Visi dan misi yang dimiliki sekolah berusaha diwujudkan dalam peran dan tugas masing-masing individu atau kelompok di sekolah. Terbentuknya visi dan misi sekolah yang kuat merupakan hasil dari sudut pandang (view of state) dan harapan kepala sekolah terhadap sekolah yang dipimpinnya.
Visi dan misi dimaksudkan untuk menjadikan sebuah organisasi memiliki jati diri yang khas yang membedakannya dengan organisasi lainnya. Visi dan misi yang dimiliki oleh sekolah harus merupakan karakteristik unik yang dapat diterjemahkan dalam aktifitas-aktifitas yang lebih operasional. Sehingga dalam melahirkan visi dan misi sekolah yang baik setidaknya mencakup tugas dan fungsi, filosofi dasar organisasi, apa yang akan ditawarkan, apa dan untuk siapa sekolah tersebut.
Visi yang baik akan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) menjalaskan arah tujuan; 2) mudah dimengerti dan diartikulasikan; 3) mencerminkan cita-cita yang tinggi, dan menetapkan standart of excellent; 4) menumbuhkan inspirasi, semangat, dan komitmen; 5) menciptakan makna bagi anggota organisasi; 6) merefleksikan keunikan dan keistimewaan organisasi; 7) menyiratkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh organisasi; 8) kontekstual, berhubungan dengan organisasi dengan lingkungan dan sejarah perkembangan organisasi.
Sedangkan misi akan menggerakkan organisasi lebih baik. Keunggulan misi yaitu: 1) organisasi yang digerakkan oleh misi akan lebih efisien; 2) organisasi yang digerakkan oleh misi akan lebih efektif dan baik; 3) organisasi yang digerakkan oleh misi akan lebih fleksibel; dan 4) organisasi yang digerakkan oleh misi akan mempunyai semangat lebih tinggi.
Itulah sebabnya visi dan misi mempunyai posisi yang sangat penting dalam kajian kepemimpinan. Visi dan misi merupakan gambaran umum atau cetak biru masa depan organisasi yang akan dipimpim oleh seorang pemimpin.

Rujukan:
1. Madyo Ekosusilo, Sekolah Unggul Berbasis Nilai: Studi Multikasus di SMA Negeri 1, SMA Regina Pacis, dan SMA Al Islam 1 Surakarta (Sukoharjo: Bantara Press, 2003), 44-45.
2. Asrin, Kepemimpinan Kepala Sekolah Pada Budaya Mutu di Sekolah; Studi Multikasus di SMAN Agung Dan SMAI Kartini Di Kota Bunga (Malang: Disertasi UM Tidak Diterbitkan, 2006), 53-55.
http://kuliahgratis.net/artikulasi-visi-dan-misi-kepemimpinan/